Perjalanan ke Tarempa sungguh sebuah pengalaman yang…baru. pertama kali ke Tarempa adalah untuk urusan kedinasan, lapor ke Kadinkes bahwa aku sudah sampai di tempat PTT.

Waktu itu kami berangkat dengan pompong fardan, kapal motor besar isi 20 orang yang jadi angkutan umum antara Tarempa dan Payalaman, desaku. Kapal ini Cuma jalan 3x seminggu, berangkat dari Tarempa jam 7 pagi dan kembali jam 12 siangnya, yang intinya cukup ideal untuk daytrip belanja dari Payalaman ke Tarempa. Kalau tidak menumpang pompong fardan ini (ongkos: Rp.20.000) kita harus mencharter sendiri pompong yang lebih kecil, kira-kira bisa mengangkut 10 orang maksimal. Cuma, makin kecil pompongnya makin goyanglah diterpa ombak.

Perjalanan dipenuhi dengan pemandangan luar biasa. Memang tidak ada yang bisa menyamai keindahan warna perairan di Anambas ini. Warnanya pun bermacam-macam, dari mulai air jernih di area pelabuhan sampai biru cerah di daerah yang lebih jauh dari pulau.

Yang khas adalah batu-batuan yang berjajar di tepi pulau… sulit diceritakan, yang jelas indah dan memukau! Betul-betul suatu keistimewaan, privilege, untuk bisa sampai ke sini untuk PTT.

Di Tarempa, setelah baru 2 hari tinggal di Payalaman aku sudah seperti orang dusun masuk kota. Suasana serba ribut, penuh dengan teriakan orang-orang yang jualan, dan… entah kenapa area jalan terasa sempit diapit toko-toko dan begitu banyak orang di jalanan.

Tarempa adalah ibukota kabupaten Kepulauan Anambas yang terletak di Pulau Siantan (kalo ngga salah). Bandara memang berada di Pulau Matak, pulau di mana desaku Payalaman berada. Jadi untuk pendatang yang baru mendarat di Matak, harus menyeberang laut dulu untuk bisa sampai ke ibukota kabupaten.

Pertanyaannya adalah… kenapa ibukotanya tidak di Matak, yang ada bandaranya?

Menurut kawan saya dokter Saif, Tarempa menjadi ibukota karena posisinya yang secara geografis terletak di tengah-tengah kepulauan Anambas. Selain itu, Tarempa memang sudah lama menjadi pusat perekonomian area ini, karena barang masuk dari daerah lain melalui kapal, bukan lewat angkutan udara.

Kalau melihat kebanyakan pulau-pulau yang saya lewati, memang sepertinya kondisi geografis di Anambas cukup sulit. Ada area pelabuhan, yang banyak ditinggali penduduk dengan rumah-rumah yang sebagian besar terletak di atas air, kemudian ada perkampungan yang sedikit lebih jauh dari pelabuhan. Tapi secara keseluruhan, dataran sulit untuk dibuka sebagai area pemukiman. Setelah daerah pantai atau pelabuhan, dataran langsung menanjak tajam menjadi pegunungan. Jadi, masyarakat juga lebih suka hidup di rumah panggung di atas air.

Itu juga sebabnya kenapa Tarempa terasa sesak dan padat. Karena memang untuk ukuran “kota” yang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi, Tarempa memanjang di tepian pulau, kira-kira hanya setengah jam ditempuh dengan jalan santai dari ujung ke ujung.

Hari itu aku lapor ke dinas, kemudian dapet surat perintah tugas (SPT). Sempet ke toko juga beli deterjen (sebelum beli aku minta-minta tetangga), sabun dll keperluan sehari-hari, yang lebih mahal daripada di Jawa. Emang mahal dan repot hidup di pulau…

Siangnya pulang lagi dengan pompong fardan, kepanasan, garing dan crispy di tengah laut jam 2 siang.

Tetap smangat!

DH

Advertisement